Entry: BUDAYA MENCONTEK, BENARKAH??? Wednesday, April 05, 2006



Masalah yang paling menyedihkan dan sulit bagi seorang guru adalah menangani murid yang menyontek pekerjaan orang lain, curang, atau mencuri. Menurut Bu Gangrade, kami merasa kesulitan menangani kasus anak yang menipu, menyobek halaman buku perpustakaan, atau menyontek pekerjaan oran lain, karena moral kami sudah melemah. “ Kita tidak mau mencela apa pun, kita selalu mencari alasan. ” katanya. “ Kita selalu berkata bahwa mencuri itu salah, bahwa itu perbuatan yang buruk. Sebaliknya, kita selalu berkata itu kekeliruan dan berkata bawa semua orang dapat berbuat salah. Mengapa kita tidak berani mengatakan dengan jelas bahwa itu salah? ” Bu Jenny yang lembut, menganggap hal ini berlebihan. “ Tapi Bu Gangrade,” serunya. “kita sedang berbicara tentang anak-anak, bukan tentang orang tua beruban yang terdidik, yang seharusnya memang sudah lebih tahu. Ini anak-anak yang masih lembut, kita tidak bisa menghukum mereka secara total, kita harus melatih mereka. Tunjukkan kepada mereka hal yang salah dan hal yang benar. Kita tidak bisa berharap mereka sudah tahu ketika mereka dilahirkan.” Bu Gangrade tidak setuju. “Orang tua beruban itu, dulu juga anak-anak kecil yang lembut” katanya. “Apa yang terjadi pada mereka? Kemana kemampuan mereka menimbang baik dan buruk? Menurut saya, bahkan kita, para guru ini, kalau ditanya apa yang secara moral benar dan apa yang salah, kita tidak tahu harus bilang apa. Sekarang soal baik dan buruk sangat bergantung pada pendapat pribadi. Saya bisa saja bilang bahwa menyalin PR orang lain, pada saat-saat terakhir, adalah perbuatan yang sama sekali salah. Tetapi, waktu semua murid kita melakukannya, kita menerimanya.” “Itu betul,” kata Bu Sundari. “Tapi, hal itu beralasan. Kalau kita menghukum murid dengan mengulang kembali pekerjaan yang mereka contek, anak-anak itu tidak akan bisa menyusul pekerjaan teman-temannya yang lain. Keadaan jadi tambah buruk untuk anak itu. Kedua….” “Setidaknya, anak itu telah mengerjakan sesuatu, jadi dia tidak mengumulkan kertas kosong,” kata Bu Ruksana. “Dan dengan melakukan itu, apa pelajaran yang diperoleh anak?” Tanya Bu Gangrade. “Anak itu belajar berkompromi dengan nilai-nilai salah yang dianggap benar. Lebih baik menyontek daripada menyerahkan kertas kosong. Lebih baik belajar dari contekan daripada belajar dari buku teks. Lebih baik cari jalan pintas daripada susah-susah belajar. Jadi, apa hasil yang kita peroleh? Sebuah negara yang kemampuan berbohong dan menipunya berkembang subur. Coba tunjukkan seorang pengusaha yang jujur, pasti bukan bangsa kita. Ini semua dimulai di sekolah, mulai disini.” Pernyataan Bu Gangrade sangat kuat, juga sangat menyakitkan. Sangat mengganggu sanubari. Kapan penyesuaian dan kompromi menggantikan usaha yang dilakukan sebaik-baiknya, kapan semuanya berubah jadi kecurangan dan penipuan? Apa batas-batasnya? Seberapa lembek perlakuan kita terhadap anak-anak, kita tidak memarahi mereka karena tidak ingin mereka merasa ditolak atau dihukum? Jadi, soa melatih otak-otak yang lembut itu untuk membedakan yang baik dengan yang benar, bagaimana tepatnya hal itu harus dilakukan? ………..Kadang-kadang, bukan hanya jawabannya, melainkan pertanyaannya pun mengganggu pikiran. Source : Sekolahku Cintaku, (bukan) coretan iseng di sekolah Poile Senggupta.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments